1/08/2013

Mubazir Tanpa Kampas Dan Per Kopling Mumpuni!



OTOMOTIFNET - Pemakaian suatu part performa di motor akan lebih maksimal bila ditunjang komponen lain. Misal pada pasangan sejoli, kampas dan per kopling aftermarket.

“Kalau hanya pakai salah satu, efek yang dihasilkan gak mengalami peningkatan yang signifikan,” ujar Juffry Willar dari Mitra2000.
Nah agar mendapat hasil oke, seluruh sistem pada suatu bagian harus ikut diupgrade, dalam hal ini, kampas beserta per kopling tadi. Nah mau tahu lebih dalam? Langsung aja Kita bahas dua items tersebut!

Kampas Kopling
Apa sih fungsinya? Masih menurut Juffry, fungsi kampas kopling yakni sebagai media transfer tenaga yang dihasilkan putaran mesin ke gir belakang. ”Dengan kata lain, kampas kopling bertanggung jawab penuh atas penghubung dan pemutus tenaga mesin ke roda belakang,” urainya.

Masih menurut pria berdarah Makassar ini, peran kampas kopling akan sangat terasa ketika sedang berakselerasi.  Untuk itu, dituntut material bahan kampas yang dapat menggigit pelat gesek dengan kuat.

Nah di pasaran tentu sudah banyak beredar merek kampas racing yang diklaim lebih oke dari bawaan standar motor. Eits, tapi ada konsekuansinya! ”Biasanya kampas racing lebih cepat habis ketimbang bawaan standar pabrik. Itu karena material kampas racing dibuat soft guna mendapat cengkraman lebih baik.
untuk spek harian, cukup pilih per yang lebih tinggi 2-3 mm dari tinggi per standar

Buku-buku kampas kopling, pilih lebar dan jarang atau kecil tapi banyak

Material kampas kopling racing lebih lembut tapi cepat habis

Beda diameter per kopling ikut menentukan tingkat kekenyalan
Selain itu, buku-buku pada kampas racing juga lebih banyak atau lebar. Nah biasanya di motor yang bertorsi besar, pihak pabrikan sudah membekali kampas dengan buku-buku seperti itu.

Ilustrasinya seperti tapak ban, makin lebar permukaan ban yang menapak ke aspal, makin kuat pula cengkraman ban tersebut.
Bicara merek, di pasaran ada label TDR, CLD, Daytona dan banyak lagi. ”Khusus label TDR, Kita jual dengan dua tipe, yakni buat harian dan spek kompertisi dengan tingkat kekerasan medium,” jelas Juffry.

Per kopling
Seperti yang sudah disinggung di awal, kerja kampas kopling bakal lebih maksimal jika didukung dengan per kopling racing. Semakain besar tenaga motor, maka membutuhkan per kopling yang lebih keras atau semakin kuat menekan kampas kopling.

 Maka itu, rata-rata per kopling racing memiliki tingkat kekenyalan lebih keras dibanding pegas standar. Namun begitu, bukan berarti yang paling keras itu oke! ”Selain bikin handle kopling jadi makin keras ditarik (kopling manual), hal itu juga bisa merusak bagian rumah kopling,” tambah Juffry.

Kekenyalan per kopling didapat dari kombinasi tinggi pegas dan diamter ulir per. Semakin tinggi dan besar, biasanya akan semakin keras pula per tersebut. Untuk itu per kopling banyak ragam ukurannya, mulai motor standar sampai full racing.

Selain itu, material bahan juga ikut menentukan harga. Maksudnya, selain harus kuat menekan pelat kopling, pegas dituntut harus cepat kembali ke posisi awal setelah ditekan penuh. Nah itu hanya bisa didapat dari material besi yang berkualitas. ”Kalau baliknya lambat, efeknya motor akan terasa selip,” urai Juffry.

Nah bicara merek, di pasaran sudah banyak tersedia per kopling racing dari label papan atas seperti CLD, TDR, Daytona dan Kawahara. Harga juga bervariatif, mulai dari Rp 70-250 ribuan.

Kampas kopling

CLd
150-155 ribu
TDR Standar
88-150 ribu
TDR Racing
105-150 ribu
Marathon
100-110 ribu
Daytona
225-250 ribu
HRP
150-155 ribu
Kitaco
200 ribu
BRT
175 ribu
Per kopling

CLD
70-80 ribu
Daytona
225-250 ribu
R9
80-85 ribu
HRP
75-80 ribu
Kawahara
70 ribu
TDR
110-130 ribu
TDR Medium
164 ribu
TK
100 ribu
FCCL
175 ribu
Inspiro
100 ribu

10/25/2012

CDI UNLIMITER

Pertarungan CDI Unlimiter: CDI Rextor, CDI BRT, XP 202, CDI Cheetah


OTOMOTIFNET – Setelah sebelumnya melakukan tes optimalisasi bahan bakar dengan berbagai macam produk pengirit bahan bakar yang di rancang oleh Hendry Martin, ST. Kali ini Otonetters, komunitas member di Forum OTOMOTIFNET.COM kembali mengibarkan bendera Otoneters Indepnedent Tester dengan melakukan pengetesan CDI programmable untuk Honda Supra X125.
Sekaligus dipilih 4 merek dalam pengetesan ini yaitu BRT, Rextor, XP202 dan Cheetah Power. Syaratnya harga jual masing-masing CDI yang diiukutkan dalam komparasi ini harus tidak lebih Rp 500 ribu. Harga ini paling ideal untuk kebutuhan korek harian atau sekedar plug & play pada motor dengan spek standar.
Pengetesan CDI berlangsung cukup panjang dari akhir Februari hingga awal april. Panjangnya waktu disebabkan ada empat variable pengetesan yang dites secara terpisah. Yaitu, peak rpm untuk mencari siapa yang punya limiter paling tinggi. Kemudian ada tes akselerasi dengan menggunakan alat ukur Racelogic.
Dilanjutkan dengan melakukan tes konsumsi bahan bakar dan terakhir tes power dan torsi dengan dyno tes. Tujuan pengetesan ini dalam beberapa tahapan terpisah, bukan untuk mencari siapa yang terbaik diantara keempat CDI tersebut. Tapi lebih berfungsi untuk memetakan mana yang terbaik sesuai kebutuhan konsumen. Mengingat tiap CDI memiliki karakter yang berbeda satu sama lain.
Motivasi konsumen dalam memilih CDI pun berbeda-beda. Ada yang mengganti CDI sekedar karena mencari tenaga besar tapi ada juga yang hanya ingin akselerasi motornya makin ngacir atau malah ingin konsumsi bahan bakarnya semakin irit. So, mari ikuti ringkasan dari empat proses pengetesan ini.
Pengetesan ini dilakukan pada sebuah Honda Supra X125 pinjaman dari PT Astra Honda Motor (AHM) dalam kondisi benar-benar baru dan standar tanpa ubahan apapun. Juga dipilih tiga tester untuk menjalani semua rangkaian pengetesan. Dua dari member Forum OTOMOTIFNET.com (Bintang Pradipta dan Spidlova) dan satu wakil dari redaksi OTOMOTIFNET.com (Popo).
Dalam keseluruhan pengetesan ini digunakan kurva yang telah direkomendasikan oleh masing-masing produsen CDI. BRT meminta klik kurvanya disetting di posisi angka 8 yang artinya timing pengapian di atur pada 35 derajat sebelum titik mati atas. Rextor memilih kurva ditaruh di posisi angka 0. Sedang Cheetah Power menyarankan untuk menggunakan kurva pertama. Dan XP202 karena tidak memiliki pilihan kurva maka langsung colok.
Pengetesan Tahap 1 : Siapa Limiter Tertinggi?


Bertempat di bengkel Otomotif Service Station (OSS), pengukuran dilakukan dengan rpm meter merek BRT. Suhu mesin dipatok 70 derajat celcius dengan toleransi 5 derajat celcius. Masing-masing CDI dapat giliran digeber dua sampai tiga kali. Hasilnya saat di gas pada putaran mesin( rpm) paling tinggi, semua CDI ini mampu membuat mesin berteriak lebih dari 12.000 rpm. Bandingkan dengan CDI standar yang hanya bermain di angka 9.000 rpm.
CDI Standar = 9.841 rpm
CDI BRT Neo Click = 12.930 rpm
CDI Cheetah Power CP 400 = 12.700 rpm
CDI XP = 12.400 rpm
CDI REXTOR = 12.280 rpm
Pengetesan Tahap 2: Siapa Akselerasi Tercepat?


Bertempat di depan kantor OTOMOTIFNET.com pengetesan akselerasi dimulai pada jam 11 malam saat kondisi jalan sudah benar-benar lengang. Panjang lintasan sekitar 300 meter, 200 meter untuk pengetesan dan 100 untuk jarak pengereman. Panjang trek ini mirip panjang lintasan drag bike yang panjangnya 201 meter.
Kondisi mesin tetap standar tanpa ubahan apapun. Dan semua tester (Bintang pradipta, Spidlova dan Popo) punya kesempatan 2 kali running untuk tiap CDI. Hasil di bawah ini diambil catatan waktu terbaik untuk 100m dan 200m. Catatan waktu selama pengetesan ini diukur dengan alat ukur Racelogic.
CDI Standar
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100 10.0
0-200 14.7
Bintang Pradipta
0-100 11.7
0-200 16.7
Popo
0-100 09.0
0-200 14.1
CDI BRT Neo Click
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100 10.3
0-200 15.1
Bintang Pradipta
0-100 09.4
0-200 14.2
Popo
0-100 08.5
0-200 13.3
CDI Cheetah Power CP 400
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100 08.1
0-200 12.9
Bintang Pradipta
0-100 09.6
0-200 14.6
Popo
0-100 09.3
0-200 14.4
CDI XP
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100 09.5
0-200 14.4
Bintang Pradipta
0-100 09.7
0-200 14.6
Popo
0-100 09.1
0-200 14.0
CDI REXTOR
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100 10.6
0-200 15.4
Bintang Pradipta
0-100 09.6
0-200 14.5
Popo
0-100 09.2
0-200 14.1
Pengetesan Tahap 3: Sipa Konsumsi Bahan Bakar Teririt?


Pengukuran konsumsi bahan bakar dilakukan dengan menggunakan burette (gelas ukur), cara pengetesannya dengan melihat siapa yang paling cepat menghabiskan 100ml bensin. Secara sederhana dari hasilnya bisa dilihat, yang cepat habis berarti boros sedang yang lama abisnya berarti irit.
Saat pengetesan motor dalam keadaan diam dengan suhu mesin dipatok pada kurang lebih 70 derajat celcius. Dan putaran mesin dibuat statis pada 5000rpm. Pengukuran dilakukan dengan 3 stopwatch yang dipegang oleh Arseen lupin, Nanda, dan David. Didapat hasil rata-rata sebagai berikut:
CDI Standar : 1 menit 16 detik
CDI BRT Neo Click : 1 menit 25 detik (penghematan 11,84%)
CDI Cheetah Power CP 400 : 1 menit 22 detik (penghematan 7,89%)
CDI XP : 1 menit 15 detik (lebih boros 1,31%)
CDI Rextor : 1 menit 17 detik (penghematan 1,31%)
Pengetesan Tahap 4: Siapa Power Tertinggi?


Test terakhir ini dilakukan di dynamometer bermerek Dyno Dynamic milik bengkel Khatulistiwa dikawasan Jl Pramuka, Jakarta Timur. Pengetesan dyno dilakukan tanpa ubahan apapun pada motor. Bahkan settingan angin dan bensin pada karburator dibuat seragam meski gonta ganti CDI. Pengetesan dilakukan 2 kali, dengan spuyer standar dan dengan spuyer yang sudah naik satu step dari standar. Ukuran 35/75 menjadi 38/78.
CDI juga tetap menggunakan pilihan klik/kurva yang sama dengan 3 test sebelumnya. Pada pengetesan ini suhu mesin dipatok seragam pada 90 derajat celcius sebelum mesin digas. Berkat blower yang dipasang di dekat blok silinder suhu mesin selama pengetesan bisa stabil dikisaran 100-110 derajat celcius. Dan tiap CDI punya kesempatan 5 kali run. Hasil yang diperoleh cukup mencengangkan.
Sesi pertama tanpa jeting
Max Power CDI Standar : 8 dk
Max Power CDI XP : 7,8 dk
Max Power CDI Rextor : 7,9 dk
Max Power CDI Cheetah Power : 7,3 dk
Max Power CDI BRT : 7,7 dk
Sesi kedua dengan jeting
Max Power CDI Standar : 7,4 dk
Max Power CDI XP : 6,1 dk
Max Power CDI Rextor : 7,5 dk
Max Power CDI Cheetah Power : 6,8 dk
Max Power CDI BRT : 7,3 dk

9/21/2012

Foto-Foto Kecelakaan Yang Gokil,Kocak,dan LUCU



Bermain sepeda atau melakukan atraksi menaiki sepeda dan terjatuh atau kecelakaan itu adalah hal yang biasa. Para anak BMX atau para pecinta sepeda terjatuh itu wajar, tapi disini kawandnews akan menampilkan Foto-foto BEST MOMENT [AMAZING] orang yang sedang bermain sepeda dan terjatuh sendiri atau pun kecelakaan pada saat melakukan atraksi. Berikut adalah pemanpakan Foto dari para pesepeda tersebut:












9/06/2012

BOB 1

BANJARNEGARA-lebih dari 800 crosser dari 250 klub motocross mengikuti Bhayangkara Trail Offroad Banjarnegara (BOB I) yang mengambil start dan finish di  the Pikas Adventure Resort Madukara Minggu (15/1). Mereka berasal dari beberapa klub motocross di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta.
Ketua panitia lokal BOB I Andri Sulistyo mengatakan peserta motocross akan menempuh perjalanan mengelilingi Banjarnegara sebelah selatan sepanjang 80 km dari Madukara, SKB, argasoka, masaran, gununglangit, lintang tiba, bukit cinta dan berakhir finish kembali di the Pikas Adventure Resort.
“Panitia menyediakan tiga hadiah utama sepeda motor Kawasaki dan hadian hiburan menarik lainnya melalui kupon peserta yang akan diundi setelah masuk finish,” kata Andri
Kapolres Banjarnegara AKBP. Muhamad Anwar Reksowijoyo, SH, SIK meminta kepada para peserta untuk menjalin kekompakan antar peserta, karena salah satu kegiatan dalam motocross adalah kekompkan para crosser. Dia juga meminta agar peserta menjaga lingkungan pada lokasi yang dilalui.
“Motocross merupakan olah raga yang menantang karena harus melalui track atau jalur yang ekstrim sehingga membutuhkan kejelian dalam memilih jalur, jaga diri dan tetaplah  berdo'a agar kita selalu kontrol saat memacu kencaraan,” kata Anwar
Menurut rencana BOB I akan menjadi agenda tahunan, selain untuk menjalin silaturahmi antar crosser juga sekaligus untuk mengenalkan Banjarnegara sebagai lokasi yang cocok untuk bermoto cross.
“Melihat animo crosser, Bhayangkara Trail Offroad Banjarnegara akan kami jadikan agenda tahunan, tahun depan penyelenggaraan kami upayakan lebih berkualitas dan menantang, baik dari penyelenggaraan serta rute yang akan dilalui,” lanjutnya.
Pada kesempatan yang sama Bupati Banjarnegara mengatakan jumlah peserta yang melebihi target menandakan Banjarnegara mempunyai daya tarik sebagai lokasi yang tepat untuk moto cross. Sebelumnya Banjarnegara juga menjadi tuan rumah off road yang juga diikuti sejumlah Off Roader Se Jawa dan Bali. Arung Jeram juga mulai dilirik penggemar di Indonesia, terbukti sungai Serayu di tunjuk sebagai lokasi kejuaraan arung jeram nasional dan Internasional beberapa waktu lalu.
“Lokasi Banjarnegara bagian selatan mempunyai daya tarik sebagai lokasi moto cross dan off road, di sepanjang jalur yang dilalui peserta disuguhi berbagai pemandangan menarik serta melalui desa-desa terpencil yang berada di lereng gunung sebelah selatan Banjarnegara,” kata Sutedjo.
Terkait dengan pariwisata di Banjarnegara Sutedjo berencana akan merancang satu paket wisata di Banjarnegara yaitu menyatukan beberapa lokasi wisata menjadi satu paket tujuan wisata seperti air terjun yang berada di kecamatan Wanayasa dan Pejawaran yang dekat dengan wisata utama yaitu Dieng.
“Menurut rencana dalam paket tersebut wisatawan diarahkan dahulu ke lokasi wisata yang berada di Kecamatan Wanayasa, dan Pejawaran yang menawarkan wisata air terjun dan pemandian air hangat. Peket tersebut berakhir di Dataran Tinggi Dieng,” tambah Sutedjo.(**anhar)
Terakhir Diperbaharui pada Senin, 16 Januari 2012 01:40
Sekilas nfo MAT3 Banyak yang menanyakan gimana jalur MAT3 kali ini..??? Management siluet adventure selain mengemas event nasional ini dengan konsep entertainmet..kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyuguhkan jalur yang yang bisa di nikmati semua kalangan peserta, kami sengaja mendesain jalur ini untuk bisa dilewati semua jenis kendaraan trail. Days 1 : Malang-Bromo Setelah melakukan teaser jalur untuk dipakai hari pertama event MAT3 nanti,…

About